Sejarah Nama Malioboro

Share

Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Keraton mengadakan acara besar maka jalan malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama “Marlborough” yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M. pendirian jalan malioboro bertepatan dengan pendirian keraton Yogyakarta (Kediaman Sultan).

Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan stasiun utama (1887) di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi Utara-Selatan sepanjang jalan.

OBYEK BERSEJARAH

Stasiun Tugu
Stasiun kereta api yg menjadi stasiun utama di Yogya terletak di ujung Malioboro, saat ini merupakan stasiun kereta terbesar di Indonesia. Mulai dioperasikan pada 2 Mei 1887 ini, pada awalnya hanya digunakan sebagai stasiun transit kereta pengangkut hasil bumi hingga pada 1 Februari 1905 digunakan juga sebagai stasiun transit penumpang.

Benteng Vredeburg
Dulunya bernama Benteng Rustenburg dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah milik Keraton. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk melindungi Residen Belanda yg bertempat tinggal di dalam areal tersebut. Sejak dibangun, gedung ini telah digunakan sebagai : benteng pertahanan 1760 – 1830, tangsi Belanda dan Jepang 1830 – 1945, markas tentara RI 1945 – 1977. Tahun 1985 gedung ini dijadikan Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum .

Benteng Yogyakarta.

Monumen Serangan Umum Satu Maret 1949
Catatan sejarah yg menjadi kontroversial karena para pelaku sejarahnya mempunyai versi masing – masing dalam mengungkapkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Monumennya dibangun di ujung Jl Ahmad Yani di samping depan dari Vredeburg.

Gedung Agung
Berdiri tepat di seberang Benteng Vredeburg, gedung ini dulunya merupakan kediaman Residen Belanda dan pada masa Soekarno dijadikan sebagai Istana Presiden RI semasa Yogyakarta menjadi ibukota negara RI 1946 – 1949.

Disamping gedung-gedung tersebut, di atas kawasan Malioboro dan sekitarnya terdapat banyak bangunan-bangunan bersejarah lainnya yg masih berdiri kokoh seperti Gedung Bank Indonesia, Pasar Bringhardjo, Gedung BNI, Keraton Yogya, gedung Pos & Giro dll.

Bingung di Jogja ingin kemana saja? klik Disini

In Sanskrit, the word “malioboro” meaningful bouquet. it may have something to do with the past when the palace held a big event then the road malioboro will be filled with flowers. Malioboro word also comes from the name of a British colonial named “Marlborough” who lived there in 1811-1816 AD establishment malioboro road coincides with the establishment of Yogyakarta palace (residence of the Sultan).

The development of the period was dominated by the Dutch in building facilities to boost the economy and their strength, like the construction of the main station (1887) in Jalan Malioboro, which is physically managed to divide the road into two parts. Meanwhile, Malioboro street has an important role in the independence era (post-1945), as the Indonesian people fighting for their independence in the fighting that North-South along the way.

OBJECT OF HISTORIC

Tugu station
The train station who were the main station located at the end Malioboro Yogyakarta, is currently the largest train station in Indonesia. Began operation on May 2, 1887, in the beginning only used as a transit station wagon transporting crops up on February 1, 1905 is also used as a transit passenger station.

 Vredeburg
Formerly named Fort Rustenburg was built by the Dutch in 1760 on land belonging to the palace. The fort was built with the aim to protect the Dutch resident who reside in the area. Since its construction, the building has been used as: bastion of 1760 – 1830, barracks Netherlands and Japan 1830 – 1945, the headquarters of the Indonesian army in 1945 – 1977. In 1985 the building was used as the Museum of Struggle and opened to the public.

 Fortress Yogyakarta.

 The General Offensive Monument March 1949
The historical record which became controversial because of its historical actors have a version of each – each expressing events General Offensive March 1, 1949. monument built at the end of Jl Ahmad Yani in addition to the front of Vredeburg.

Gedung Agung
Standing right across Vredeburg, this building was once the residence of the Dutch resident and under Soekarno serve as the Presidential Palace during the Yogyakarta became the capital of Indonesia from 1946 to 1949.

Besides these buildings, above the surrounding area of Malioboro and there are lots of other historic buildings that still stood firm like Bank Indonesia building, Market Bringhardjo, BNI Building, Keraton Yogyakarta, Pos & Giro buildings etc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *